"Semoga Bermanfaat"

Kamis, 26 Juli 2012

Pengertian Motivasi Belajar



Kata “motif”, diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subjek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Berawal dari kata “motif” itu maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif.  Motif menjadi aktif pada saat–saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan mendesak (Sardiman, 2006: 73). Sedangkan menurut Oemar Hamalik (2008: 158), “motivasi adalah perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan”. Sejalan dengan pemahaman tersebut Nana Syaodih Sukmadinata (2007: 381) menyatakan bahwa “motivasi merupakan suatu kondisi dalam diri individu atau peserta didik untuk melakukan kegiatan mencapai sesuatu tujuan. Sebagai contoh motivasi ingin lulus ujian mendorong peserta didik untuk membeli buku-buku yang diperlukan, banyak belajar, mengikuti bimbingan dan latihan dari guru, belajar kelompok dengan teman-temannya, dan sebagainya.
Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah daya dorong seseorang untuk melakukan sesuatu guna mencapai tujuan tertentu. Seorang peserta didik akan belajar dengan baik apabila ada faktor pendorong yang berupa motivasi. Motivasi menimbulkan intensitas bertindak lebih tinggi. Terjadi suatu usaha merangsang kemampuan siswa untuk bertindak khususnya dalam hal belajar yang dikarenakan adanya keinginan untuk mencapai prestasi yang tinggi.
Dalam kaitannya dengan belajar, motivasi sangat erat hubungannya dengan kebutuhan aktualisasi diri sehingga motivasi besar pengaruhnya pada kegiatan belajar siswa yang bertujuan untuk mencapai prestasi tinggi. Motivasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah motivasi dalam belajar, dimana dengan motivasi yang dimiliki seseorang siswa akan mampu meningkatkan prestasi belajarnya.
Oemar Hamalik (2008: 75) menyatakan bahwa “ motivasi belajar adalah merupakan faktor psikis yang bersifat non-intelektual. Peranannya yang khas adalah dalam hal penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar. Siswa yang memiliki motivasi kuat akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar”. Menurut Winkel (2004: 27), “ motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yaitu menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar itu, maka tujuan yang dikehendaki oleh siswa tercapai”.  Dikatakan “ keseluruhan” karena biasanya ada beberapa motif  yang bersama-sama menggerakkan siswa untuk belajar. Selajan dengan pendapat tersebut Sardiman (2006: 102)  menyatakan bahwa dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan  kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.
Dari beberapa pendapat tentang devinisi motivasi belajar dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar merupakan keseluruhan daya penggerak yang menimbulkan gairah, rasa senang dan semangat untuk belajar dan memberi arah dari kegiatan belajar  sehingga tujuan yang dikehendaki siswa dapat tercapai. Dalam hal ini jika dikaitkan pada program keahlian Teknik Audio Video  motivasi belajar dapat memdorong siswa dan memberi semangat untuk mencapai prestasi yang tinggi.
b.      Macam-macam motivasi belajar
Biggs dan Tefer yang dikutip oleh Sugihartono, dkk (2007: 78) menyatakan bahwa pada dasarnya siswa memiliki bermacam-macam motivasi dalam belajar. Macam-macam motivasi tersebut adalah :
1)      Motivasi Instrumental
Motivasi intrumental berarti bahwa siswa belajar karena didorong oleh adanya hadiah atau menghindari hukuman.
2)      Motivasi sosial
Motivasi sosial berarti siswa belajar untuk penyelenggaraan tugas, dalam hal ini keterlibatan siswa pada tugas menonjol.
3)      Motivasi berprestasi
Motivasi berprestasi berarti bahwa siswa belajar untuk meraih prestasi atau keberhasilan yang telah ditetapkannya.
4)      Motivasi Intrinsik
Motivasi intrinsik berarti bahwa siswa belajar karena keinginannya sendiri.
Menurut  Winkel (2004: 27) menyatakan bahwa motivasi belajar terbagi atas dua bentuk yaitu:
1)   Motivasi intrinsik, yaitu bentuk motivasi yang didalamnya aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan suatu dorongan yang secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar. Misalnya anak belajar karena ingin mengetahui seluk beluk suatu masalah selengkap-lengkapnya.
2)   Motivasi ekstrinsik yaitu bentuk motivasi yang didalamnya aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan suatu dorongan yang tidak secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar. Misalnya anak rajin belajar untuk memperoleh hadiah yang dijanjikan orang tuanya.
Mengacu pada pengertian motivasi di atas, yaitu motivasi intrinsik dan ekstrinsik, maka dapat dikatakan bahwa motivasi intrinsik mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam kegiatan belajar bila dibandingkan dengan motivasi ekstrinsik. Hal ini seperti dikemukakan oleh Oemar Hamalik (2008: 181) bahwa motivasi yang berasal dari dalam individu lebih efektif dari pada motivasi yang di paksakan dari luar.
Dengan demikian motivasi intrinsik mempunyai sifat yang lebih penting, untuk itu  motivasi intrinsik perlu selalu ditimbulkan dan dikembangkan pada diri siswa karena dengan membangkitkan motivasi intrinsik berarti timbulnya keinginan untuk belajar pada diri siswa bukan karena ingin mendapatkan hadiah orang tua atau takut tidak naik kelas.
     Menurut Nana Syaodih (2009: 63) sifat motivasi dibedakan atas tiga macam, yaitu:
1)   Motivasi takut  (fear motivation)
Individu melakukan sesuatu perbuatan karena takut.
2)   Motivasi intensif (incentive motivation)
Individu melakukan sesuatu perbuatan untuk mendapatkan sesuatu insentif.
3)   Sikap (attitude motivation) / (self motivation)
Motivasi ini lebih bersifat intrinsik, muncul dari dalam diri individu, berbeda dengan kedua motivasi sebelumnya yang lebih bersifat ekstrinsik dan datang dari luar diri individu.
Menurut Oemar hamalik (2009: 113) motivasi intrinsik dan ekstrinsik tersebut dapat muncul karena dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :
1)   Tingkat kesadaran diri siswa atas kebutuhan yang mendorong tingkah laku atau perbuatannya dan kesadaran atas tujuan belajar yang hendak dicapainya.
2)   Sikap guru terhadap kelas. Guru yang bersikap bijak dan selalu merangsang siswa untuk berbuat ke arah suatu tujuan yang jelas dan bermakna bagi individu akan menumbuhkan sifat intrinsik, tetapi bila guru lebih menitik beratkan pada rangsangan-rangsangan sepihak maka sifat ekstrinsik menjadi dominan.
3)   Pengaruh kelompok siswa. Bila pengaruh kelompok terlalu kuat maka motivasinya lebih condong ke sifat ekstrinsik.
4)   Suasana kelas. Suasana kebebasan yang bertanggung jawab tentunya lebih merangsang munculnya motivasi intrinsik dibandingkan dengan suasana penuh tekanan dan paksaan.
Pada umumnya motivasi intrinsik lebih kuat dan lebih baik dari pada motivasi ekstrinsik sehingga perlu dibangun motivasi intrinsik pada diri siswa. Diharapkan anak mau belajar karena takut dimarahi, dihukum, mendapat angka merah, ataupun takut tidak lulus dalam ujian. Tetapi, anak mau belajar karena merasa perlu atau membutuhkan untuk mencapai tujuan belajarnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar